Tanjung Aan – Kuta Lombok dan Masyarakat Adat Sade

Hari terakhir trip kami diawali dengan acara outbond di lingkungan hotel oleh pengelola travel. Karena saya mager, dan cukup perwakilan setiap keluarga, akhirnya bapak saya yang mengikuti acara, toh ini acara kantor bapak.

Acara outbond dilangsungkan hingga pukul 10, dan kami diminta bersiap untuk check out dari hotel pukul 11. Hari itu akan menjadi perjalanan terakhir di Lombok, karena keesokan harinya, kami akan meninggalkan Lombok dengan penerbangan jam 06.00.

Perjalanan diawali dengan mampir toko oleh-oleh (lagi), yang paling antusias tentu saja ibu-ibu, sedangkan para bapak, dan anak-anak bahkan ada yang gak turun dari bus, atau sekedar nongkrong di depan toko oleh-oleh. Bahkan menurut tour guide sendiri yang paling ngelarasi toko oleh-oleh ini ya para wisatawan domestik ketimbang wisatawan mancanegara, sungguh hebat daya beli masyarakat Indonesia. Sisi positifnya adalah, dengan meningkatnya daya beli, berarti juga turut meningkatkan perekonomian warga lokal.

Perjalanan dilanjutkan menuju Tanjung Aan, pantai ini merupakan salah satu pantai tujuan utama wisata di Lombok, pasir pantainya putih bersih, dan terdapat bukit yang bisa kita naiki untuk berfoto dan melihat kawasan pantai dari atas bukit.

tanjung-aan1

Pantai Tanjung Aan

tanjung-aan2

dari bukit ini kita bisa melihat pantai Tanjung Aan dari atas

Kondisi di Pantai Tanjung Aan ini sedikit berbeda dengan pantai di gili trawangan yang bebas dari pedagang asongan. Disini akan buanyaaak sekali kita jumpai anak” kecil yang menjual berbagai macam oleh” yang bisa kita temui juga di toko oleh-oleh. Nah bedanya, adek” pedagang ini sedikit memaksa dalam menjual dagangannya.

Bapak ibu, kalau beli dari adek” itu beli satu gratis tiga. (beli dari satu orang, muncul tiga yang lain)

tanjung-aan3

bapak saya, dikerubutin sama anak” setelah beli dari salah satu penjual

Setelah dari Tanjung Aan, tujuan kami berikutnya adalah pantai Kuta. Loh Kuta? iyaa kuta lombok. Lokasi Pantai Kuta Lombok tidak jauh dari Tanjung Aan, hanya ditempuh dalam waktu 10 menit.

Secara penampakan Pantai Kuta ga jauh beda dengan Tanjung Aan, pasir pantainya putih bersih, bahkan disini bisa ditemui beberapa wisatawan mancanegara yang sedang duduk santai di pinggir pantai. Selain itu disini juga akan kita jumpai pedagang” souvenir.

kutalombok1

Hal yang menarik di Pantai Kuta Lombok ini adalah banyaknya stray dogs, tapi jangan khawatir anjing-anjing ini jinak kok. Mereka ga ngejar-ngejar atau menyalak ketika melihat wisatawan disekitar mereka. Bahkan anjing-anjing ini juga ikut-ikutan berjemur dan tidur-tiduran santai di pinggir pantai.

kutalombok3

 akan banyak kita jumpai anjing yang tiduran di pinggir pantai seperti ini

kutalombok4

anjing ini menggali pasir disekitarnya dan kemudian dia membenamkan badannya

Anjing-anjing yang berkeliaran disinipun ternyata semuanya sudah disteril (bisa dilihat dari tanda eartip di telinganya), sehingga tidak akan menimbulkan overpopulasi. ketika saya tanyakan kepada warga setempat mereka tidak tahu siapa yang mensteril anjing-anjing ini. Mayoritas warga pun senang dan setuju dengan tindakan tersebut, karena mereka tidak ingin ada overpopulasi anjing di Pantai Kuta tersebut.

Di Pantai Kuta ini ada yang ajaib juga lo, terdapat batu” besar dipinggiran pantainya, dan ajaibnya ada pohon yang tumbuh dari sela-sela pohon tersebut. Saking menariknya buanyaaak wisatawan yang mengantri untuk foto di dekat pohon dan batu ini.

kutalombok5

Kondisi cuaca mendung dan hujan yang mulai turun membuat kami harus segera beranjak dari Pantai Kuta. Kami pun menuju ke obyek wisata yang terakhir yaitu desa adat sade

Desa adat Sade ini bisa dibilang hingga saat ini teguh dalam menjalankan kebudayaan dan tradisi yang mereka miliki. Di jaman yang serbang canggih ini sangat sulit rasanya mempertahankan tradisi dan kebudayaan tanpa tekad yang kuat.

Salah satu tradisi yang hingga saat ini dijalankan adalah kawin lari. Kawin lari disini bukan berarti menikah tanpa ijin lo ya, namun mereka memiliki tradisi seperti itu. Karena disini kedua belah pihak (si cowok dan cewek) sama sama dasar suka dan telah bersepakat akan menikah. Si cowok harus membawa kabur calon istrinya, dan disembunyikan di desa sebelah (ataupun rumah saudaranya yang lain) .

Ketika orang tua si perempuan telah menyadari anaknya tidak pulang kerumah hingga malam, maka akan segera melaporkan kepada kepala desa. Pada pagi harinya, keluarga dari pihak laki-laki akan melaporkan bahwa anaknya telah melarikan anak gadisnya.

Seorang anak gadis yang telah dilarikan maka menurut adat harus segera dinikahkan, karena berita tersebut telah tersebar ke tetangga” sekitar. setelah itu kedua keluarga akan bertemu dan menjalani adat selabar, mensejati dan mbait wali, sebagai permohonan izin pernikahan dari keluarga laki-laki kepada pihak perempuan dan melakukan pembicaraan mengenai uang mahar. Prosesi ini dapat berlangsung selama 3 hari. Jika kedua belah pihak telah mencapai kesepakatan maka proses ijab qabul akan segera dilaksanakan.

Selama proses penculikan, dua sejoli tersebut tidak diperbolehkan melakukan hubungan hingga proses ijab qabul selesai.

Sayangnya ketika kami datang di desa adat sade kondisi cuaca disana hujan deras, sehingga kami tidak bisa leluasa untuk berfoto dan berkeliling ke rumah-rumah penduduk.

 Nah dengan berakhirnya perjalanan kami di desa adat Sade, mengakhiri pula trip kami ke Lombok, walaupun banyak jadwal yang di skip kami merasa puas dapat melihat berbagai keindahan yang ada di Lombok.

Olrait, sampai jumpa di post berikutnya ya

Advertisements

Day 2 : Gili Trawangan

Day 2 : Gili Trawangan

Hari ke 2 di Lombok, kami mulai meninggalkan hotel pukul 9. Hari ke-2 dijadwalkan untuk mengunjungi Gili Trawangan seharian penuh, dan mengunjungi beberapa toko di Lombok untuk membeli oleh-oleh.

Perjalanan dari Holiday Resort menuju ke pelabuhan penyeberangan memakan waktu sekitar setengah jam. Karena setiap kapal hanya mampu menampung maksimal 20 orang, maka kami diberangkatkan dengan 6 kapal. Perjalanan dari pelabuhan menuju ke pulau Gili Trawangan menempuh waktu sekitar 40 – 50 menit, hal ini tergantung dengan besar atau tidaknya ombak. Oh iya, karena kita menggunakan kapal-kapal kecil milik penduduk setempat, ya jadi jangan berharap ada peralatan keselamatan yang lengkap ya…

Kata tour guide kami, wisatawan manca suka kesusahan menyebut Gili Trawangan, sehingga mereka sering menyebutnya dengan Gili Tralala.

trawangan1

Kondisi di pinggir pantai Gili Trawangan, penuh dengan kapal yang merapat

Sesampainya di Gili Trawangan, saya takjub melihat pantai yang sangat rame. Baik wisatawan domestik atau mancanegara semua berbaur disini. Sepanjang pinggir pantai Trawangan ini sudah penuh oleh kios-kios persewaan, kafe, dan losmen-losmen yang semuanya dipadati oleh wisatawan. Kalau kalian pernah ke pangandaran, nah kondisinya hampir sama seperti itu.

trawangan-3

Tidak ada agenda khusus dari tour agent di Gili Trawangan, kami di bebaskan untuk berkegiatan hingga jam 2 siang. Pilihan pertama kami jatuh pada berkeliling pulau Gili Trawangan dengan bersepeda. Harga yang dipatok adalah 20 ribu/jam dan ternyata nih saya baru tau kalo memutari pulau Gili Trawangan dengan bersepada secara santai, waktu yang dibutuhkan kurang lebih 1 jam !

Nah tapi sayang, aku sekeluarga ga mengitari pulau Gili, karena keburu pengen snorkeling liat terumbu karang. Sedikit tips dari saya, untuk mendapatkan harga snorkeling yang murah berjalanlah agak jauh ke sisi barat dari pulau Gili Trawangan, yang jelas carilah tempat yang agak sepi. Anda dapat bersnorkeling sepuasnya sampai anda bosan. Tapi walaupun puas snorkeling, jangan harap bisa liat terumbu karang yang cantik-cantik di Gili Trawangan. Karena mayoritas terumbu karang di Gili Trawangan sudah mati semua.

Kalau ingin mendapatkan pemandangan terumbu karang dengan beragam warna, sewalah perahu untuk menyebrang lagi ke Gili Air ataupun Gili Meno (dengan catatan kalau waktu yang disediakan oleh tour agent cukup) . Kata temen saya yang pernah ke Gili air, terumbu karangnya jauh lebih bagus.

Jika anda ngga mau berbasah-basah, ada juga glass boat tour yang bisa anda ikuti untuk melihat terumbu karang dan ikan yang ada di Gili Trawangan. Glass boat ini adalah kapal  yang bagian bawahnya adalah kaca/mika (mungkin ya) transparan, jadi kita bisa lihat pemandangan di bawah air.

Salah satu spot yang membuat saya betah berlama-lama adalah penangkaran penyu. Terdapat penangkaran penyu yang dikelola oleh penduduk setempat.

penyu

tukik ini nantinya akan dilepas ke lautan untuk berkembang biak

penyu3

tukik-tukik kecil yang nggemesin

Bagi anda yang muslim, di Gili Trawangan ini ada masjid guedhe banget yang cukup bagus, walaupun disana-sininya masih belum selesai pembangunannya. Jadi anda bisa beribadah sholat, dan beristirahat sejenak di masjid.

Setelah makan siang, sekitar jam 2 kami sudah mulai menuju ke kapal untuk pulang ke Lombok. Perjalanan pulang ternyata lebih cepat daripada berangkat. Hanya memakan waktu sekitar 20 menit untuk sampai di pinggir pantai pulau Lombok.

Perjalanan hari ke 2 kami diakhiri dengan belanja di beberapa tempat oleh-oleh, oh iya jangan lupa beli kain tenun khas Lombok, ga begitu mahal kok dan bagus buat dijadikan kemeja ataupun buat kado orang yang anda kasihi.

Mutiara Lombok – Watu Bolong

Perjalanan kami menuju Lombok dimulai dengan penerbangan jam 9 pagi, menggunakan maskapai Garuda. Alhamdulillah cuaca kala itu sangat bersahabat untuk menikmati pemandangan dari langit, saking terpukaunya nih, aku malah nggak sempat motret dari atas, terkadang pengalaman seperti itu cukuplah dengan dinikmati saja.

Pesawat kami tiba di bandara ngurah rai sekitar pukul 11 untuk transit dan berganti pesawat. Aku kira dengan transit bisa sedikit meregangkan kaki dan menikmati bandara ngurah rai, eh ternyata jauh dari perkiraan. Kami justru harus berlari-lari untuk mengejar pesawat yang berikutnya dan sudah dipanggil-panggil bahwa pesawat akan segera berangkat. Untung saja rombongan kami cukup banyak, sekitar 120 orang, jadi rasanya ga mungkin juga rombongan segitu banyak ditinggalkan begitu saja.

Perjalanan dari bali ke lombok memakan waktu sekitar 50 menit. Sesampainya di bandara Praya Lombok, kami disambut dengan cuaca yang cukup panas. Sungguh luar biasa panasnya. Rombongan kami pun segera menuju bis yang siap menjemput kami. Keluar dari Gate bandara Praya kami disambut dengan guide lokal yang akan menemani selama di Lombok, masing masing dari kami pun dikalungkan kain tenun khas Lombok.

Karena sudah memasuki waktu makan siang, tujuan pertama dari tour kami adalah rumah makan taliwang indah. Perjalanan  memakan waktu sekitar 2 jam, dan cuaca tiba-tiba berubah menjadi gelap, seketika itupun hujan turun dengan deras. Sayang, karena hujan yang sangat deras dan disertai angin aku jadi enggan untuk mengeluarkan kamera, khawatir dengan keselamatan kamera. Rumah Makan Taliwang ini cukup luas sih, tipikal rumah makan yang dijadikan pemberhentian bus-bus besar dengan jumlah rombongan yang sangat banyak. Masakannya enak dan yaa pedas ! mungkin bagi orang jogja tulen kayak saya ini ya kepedesen banget. Namun saya agak kecewa dengan fasilitas musholanya, bisa dibilang agak jorok, karena terletak dibelakang dapur, dan kecil sekali.

Waktu makan siang pun usai seiring dengan redanya hujan. Rencana awal perjalanan kami akan menuju Taman Narmada yang berada di Kabupaten Lombok Barat. Namun apalah daya karena kondisi jalan yang macet sehingga perjalanan kesana dibatalkan. Bis pun segera meluncur ke Mutiara Lombok. Awalnya saya sempat bingung obyek wisata macam apa mutiara ini, begitu turun dari bus, ooh… rupanya tempat untuk beli mutiara.

mutiara-1

bu dipilih buuu

Nah di toko mutiara ini, banyak di jual berbagai macam perhiasan dengan mutiara, mulai dari bros, cincin, kalung dan gelang. Harga mutiaranya pun bermacam-macam, mulai dari yang 100 dapat 4 sampai yang jutaan dan tentunya bakal dapat sertifikat kepemilikan layaknya beli emas batang. Kata tour guide saya, salah satu merek perhiasan terkenal di dunia, memiliki toko, budidaya, dan pabriknya di Lombok.

mutiara-2

mbak mbak yang jaga jutek amat yak.. senyum dong mbak biar ibu”nya pada betah

Kelar belanja dan ngeborong mutiara, perjalanan dilanjutkan menuju Pura Watu Bolong. Pura Watu Bolong sendiri merupakan pura milik warga/masyarakat Hindu Bali yang berdomisili di Lombok, mereka pun melakukan sembahyang di Pura ini.

watu-bolong-1

Bangunan utama pura ada di puncak tangga itu, tapi tertutup untuk umum.

watu-bolong2

ini lo yang disebut watu bolong, jadi batu yang berlubang tengahnya

Seperti layaknya pura-pura yang ada di Bali, sewaktu kita masuk akan diberikan kain untuk diikatkan di pinggang kita. Bagi pengunjung wanita yang sedang haid juga dilarang masuk. Sesajen-sesajen pun dapat kita jumpai dimana-mana, jadi hati-hati ya dalam melangkah !

watu-bolong3

sesajen seperti ini bisa kita temui di Pura Watu Bolong

Tak terasa sudah, ternyata Pura Watu Bolong adalah obyek penutup untuk hari itu. Bis kami pun meluncur untuk menuju ke restoran yang sudah siap menyambut untuk makan malam.

Setelah makan malam, bis pun meluncur ke Holiday resort Lombok, yang menjadi tempat kami untuk melepaskan lelah. gileee, ini hotel keren banget !  Hotel ini berada persis di pinggir pantai senggigi Lombok. Suara deburan ombak pantai pun menjadi alunan musik yang membuat tidur kami semakin nyenyak malam itu.

Trip to Lombok

cover-trip-lombok-blog

Halo pembaca setia, 3 minggu yang lalu aku berkesempatan melakukan trip ke Lombok, beserta rombongan kantor ayah.Tadinya aku ditawari mau ikut atau enggak, berhubung penasaran banget sama Lombok yang lagi nge-Hits banget belakangan ini, tawaran itu pun segera ku iya-kan. Jadilah kami sekeluarga ikut liburan tersebut. Nah ikuti terus ya postingan ku untuk beberapa hari kedepan, dijamin pasti bakalan seruuu. c yaaa.